Memahami Gangguan Refraksi

Memahami Gangguan Refraksi

Diposting pada Rabu, 25 Desember 2019 oleh Admin pada kategori Kelainan Refraksi

Memahami KelainanRefraksi, Memahami Langkah Antisipasi

Refraksi adalah kata kunci yang perlu kita pahami jika ingin memiliki pengetahuan standar soal mata. Bicara masalah penglihatan, kita bicara masalah refraksi, atau lebih lengkapnya ‘kelainan refraksi’. Ada baiknya kita memahami istilah ini, setidaknya agar lebih mudah memahami penjelasan dokter mata atau ahli ketika kita berkonsultasi soal masalah penglihatan.

Refraksi atau pembiasan adalah pembelokan cahaya saat melewati satu benda ke benda lainnya. Kita dapat melihat suatu benda jika cahaya (yang mengirimkan citra benda tersebut) dibelokkan atau dibiaskan saat melewati kornea dan lensa mata. Setelah dibiaskan, cahaya difokuskan ke retina. Retina inilah yang mengubah cahaya menjadi pesan-pesan yang dikirimkan melalui saraf optik ke otak. Otak pun memaknai atau menafsirkan pesan-pesan citra ini menjadi gambar-gambar yang kita lihat.

Suatu citra atau gambar dapat diterima oleh otak dengan sempurna jika titik fokusnya tepat jatuh di retina kita. Pada mata yang bermasalah, titik fokus jatuh di depan atau di belakang retina. Gambar yang diterima otak pun menjadi kabur atau tidak jelas. Inilah yang disebut gangguan atau kelainan refraksi.

Kelainan refraksi dan menurunnya produktivitas

Kelainan refraksi sudah sejak lama menjadi masalah bagi dunia. Bukan saja bagi bidang kesehatan, melainkan juga bidang ekonomi. Nyatanya, masalah penglihatan dan masalah ekonomi sangatlah terkait. Kelainan refraksi membuat proses belajar tak maksimal. Kecerdasan terhambat. Ujungnya, membatasi kesempatan kerja. Setidaknya, masalah ini menurunkan produktivitas. Secara umum, kelainan refraksi menurunkan kualitas hidup penderitanya.

 

Secara global, WHO memperkirakan bahwa masalah refraksi yang tidak ditangani menjadi penyebab utama gangguan penglihatan. Kelainan ini bahkan menjadi penyebab kedua kebutaan sesudah katarak. Seserius itu akibatnya, namun sayang masih banyak orang tua yang kurang serius merespons masalah ini.

 

Pembiaran ini sering kali mengorbankan anak-anak. Masalah penglihatan anak jadi tak terdeteksi sejak dini. Sehingga, ketika akhirnya diperiksa, anak sudah telanjur membutuhkan kaca mata untuk dapat melihat dengan normal. Padahal, sebenarnya kelainan refraksi yang dideteksi sejak dini dapat menghindarkan anak dari kebutuhan menggunakan kaca mata.

 

Secara sederhana memang dapat dipahami mengapa masalah penglihatan mengakibatkan munculnya masalah produktivitas. Setidaknya, masalah penglihatan akan mengakibatkan:

  1. Komplikasi ke penyakit lain, seperti sakit kepala. Otot-otot mata mudah lelah karena harus bekerja ekstra-keras menghasilkan fokus pada objek yang dilihat. Kelelahan otot mata ini dapat memicu munculnya sakit kepala.
  2. Malas membaca. Rasa tidak nyaman tentu mudah muncul jika anak sulit mendapatkan fokus pada huruf-huruf yang dibacanya. Karena kecenderungan manusia menghindari ketidaknyamanan, maka kegiatan membacanya pun dihindari. Biasanya, kita akan segera menduganya sebagai ‘malas belajar’.
  3. Pergaulan. Anak-anak yang berkaca mata lebih cenderung minder. Sebabnya, antara lain, karena kadang kala teman-temannya mempertanyakan kenapa kecil-kecil sudah berkaca mata. Kesulitan dalam hal fokus juga membuatnya tak maksimal dalam sejumlah permainan yang membutuhkan kecermatan mata.
  4. Karier. Meski tak menjadi penyebab langsung, masalah penglihatan juga dapat memengaruhi karier tertentu. Sejumlah profesi bahkan memang mensyaratkan penglihatan yang normal atau sehat.
  5. Kualitas hidup keseluruhan. Ujungnya, berbagai masalah yang mungkin muncul tersebut membuat secara keseluruhan kualitas hidupnya pun menurun.

Jenis gangguan refraksi

Untuk dapat memilih langkah antisipasi yang tepat, tentu kita perlu juga memahami jenis-jenis masalah refraksi yang mungkin akan dihadapi. Berikut ini 4 jenis kelainan refraksi yang paling umum:

  1. Miopi (rabun jauh). Kesulitan melihat objek berjarak jauh dengan jelas. Secara awam, kita membahasakannya ‘mata minus’.
  2. Hipermetropi (rabun dekat). Kesulitan melihat objek dengan jarak dekat dengan jelas.
  3. Astigmatisme. Kondisi ini dapat mendistorsi penglihatan yang disebabkan dari lekukan kornea (lapisan bola mata) yang tidak normal. Ini sering disebut dengan ‘silinder’.
  4. Gangguan refraksi. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan dalam membaca atau melihat dalam jangka dekat, terkait dengan penuaan dan terjadi hampir di seluruh dunia. Kita sering menyebutnya ‘mata plus’.

Gejala dini

Untuk deteksi sejak dini, orang tua sebaiknya melakukan pengamatan mandiri lebih dulu terhadap tanda-tanda yang terjadi pada anak. Sebagian tanda dapat Anda pantau sendiri, sebagian lagi perlu ditanyakan kepada anak. Tanda dan gejala umum tersebut contohnya ialah:

  • Anak merasa seolah benda yang dilihatnya dobel atau ganda.
  • Anak merasa matanya seperti terhalang kabut
  • Anak merasa silau atau merasa ada lingkaran cahaya di sekitar cahaya terang
  • Anak kadang menyipitkan mata untuk memfokuskan pandangannya
  • Anak suka sakit kepala padahal tidak ada tanda-tanda penyakit badan
  • Anak merasa matanya tegang atau kering

Langkah antisipasi

Hal-hal yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi masalah pada mata, baik Anda sendiri maupun anak, antara lain ialah:

  1. Periksakan mata secara rutin
  2. Perhatikan masalah kesehatan yang kronis. Penyakit diabetes atau tekanan darah tinggi, misalnya, dapat memengaruhi penglihatan bila kita tak serius menanganinya.
  3. Lindungi mata terhadap radiasi sinar ultraviolet dari matahari. Jika menggunakan kaca mata hitam, pastikan pilih yang dilengkapi penangkal radiasi ultraviolet.
  4. Hindari paparan benda yang keras bagi mata. Pastikan kita menggunakan pelindung mata saat melakukan beberapa aktivitas tertentu. Bukan hanya dari benda keras seperti percikan debu atau kerikil kecil, partikel-partikel kecil seperti cat semprot dapat merusak penglihatan mata.
  5. Jangan pelit pada mata. Konsumsilah makanan-makanan yang menyehatkan mata. Buah dan sayuran harus menjadi menu wajib setiap hari karena mengandung vitamin A dan beta karoten. Keduanya penting untuk menjaga kesehatan mata.
  6. Jika sampai harus mengenakan kaca mata, pastikan pilih kaca mata yang tepat. Tentu bukan soal model, melainkan ketepatan dengan kebutuhan kondisi mata kita. Kacamata yang tepat bukan saja dapat mengoptimalkan penglihatan Anda, melainkan juga mencegah masalah mata menjadi lebih buruk. Ceklah penglihatan Anda secara berkala, jaga-jaga mata Anda sudah butuh penyesuaian.

Pepatah lama “lebih baik mencegah daripada mengobati” akan selalu relevan dengan isu kesehatan, termasuk kesehatan mata.

 

Photo: Blogkingstone.com

Artikel Lainnya

Mengenal kelainan refraksi khususnya pada anak-anak
Mengenal kelainan refraksi khususnya pada anak-anak

Diposting pada 25 November 2019 02:13 oleh Admin

Langkah Antisipasi Kelainan Refraksi
Langkah Antisipasi Kelainan Refraksi

Diposting pada 25 Desember 2019 01:23 oleh Admin

Multisensory Experience: 20 menit Tanpa Penglihatan
Multisensory Experience: 20 menit Tanpa Penglihatan

Diposting pada 25 Desember 2019 01:42 oleh Admin